Kreativitas Guru SMA Assa’adah Bungah Berbuah Penghargaan, Angkat Sejarah Gresik Lewat Buku ‘Sidajoe’


GRESIK – Menjadi guru atau tenaga pendidik tidak hanya berkutat dengan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga dituntut kreatif berkarya dan punya inovasi. Kreativitas menulis itulah yang membawa Eko Jarwanto M.pd sebagai penerima penghargaan berkat karyanya yang berjudul ‘Sidajoe’.

Eko yang merupakan guru SMA di Gresik itu mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa tahun lalu. Meski mendapat penghargaan tahun lalu, namun karya dan kreativitasnya sebagai guru pantas menjadi contoh, di momen peringatan Hari Guru Nasional, 25 November 2022 ini.

Eko adalah pendatang karena ia asli Nganjuk. Namun kecintaannya pada literasi sejarah membuatnya produktif berkarya dalam bentuk buku. Ia menyabet penghargaan 10 besar kategori penulis buku non fiksi, guru dan tenaga kependidikan Creative Camp (GCC) Tingkat Provinsi Jawa Timur 2021.

Ada sembilan buku yang dihasilkan oleh Eko Jarwanto yang membahas tentang Gresik. Meski pendatang, ia memiliki minat pada literasi Gresik yang memiliki langgam peradaban islam.

Karya buku yang dihasilkan Eko di antaranya ‘Gresik Punya Sejarah’, ‘Gresik’, ‘Mengenal Kisik’, ‘Merajut Sejarah’, ‘Sidajoe’, ‘Nganjuk’, Graphic Organizer. Untuk buku berjudul ‘Jortan dan Qomarudin’ akan rilis pada Desember 2022.

Eko mengaku sejak 2013 baru tiba di Gresik. Sebagai guru, ia tertarik menggali literasi sejarah dan budaya Gresik. Menurutnya peradaban Islam di pesisir Gresik sangat menarik, dan masih ada sampai sekarang. Belum lagi kearifan lokal keislaman Gresik yang masih bertahan, bahkan juga masih terjaga dengan baik di desa-desa.

“Pada tahun 2016, semua pengamatan saya tulis menjadi buku. Setiap tahun membuat satu buku, saat pandemi pun menulis buku tentang Sidajoe (Sidayu) selama dua tahun yaitu tentang Kadipaten Sidajoe hingga berakhir. Tahun kemarin buku Sidajoe mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur,” kata Eko.

Pria yang tinggal di Bungah ini mengaku senang dapat membantu melestarikan literasi dengan mengajarkan ke anak-anak. Pendidikan ke anak-anak dengan budaya sekitar mengajar di kelas 11 dan 12
SMA Assa’adah Bungah Gresik.

“Literasi dengan menuangkan lewat tulisan tanpa membayangkan sekitar yang jauh, rasanya sulit. Padahal di sekitar kita menarik. Ini yang lupa untuk ditulis,” terangnya.


Urgensi Kurikulum Sejarah Lokal Bagi Dunia Pendidikan di Gresik

Pada tanggal 28 Maret 2022 Pemerintah Kabupaten Gresik telah meluncurkan program kurikulum sejarah lokal sebagai bagian dalam menjaga kearifan lokal dan budaya bertempat di Ruang Mandala Bhakti Praja lantai IV Kantor Bupati Gresik.  Bupati Gresik, H. Fandi Akhmad Yani, SE. mengatakan bahwa peluncuran program kurikulum baru tersebut dirangkai dengan beberapa program kurikulum pendidikan lainnya, seperti program kurikulum edukasi wisata, program tahfidz belajar, dan CSR pada bidang pendidikan. Pelaksanaan launching empat kurikulum itu dihadiri oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman, Asisten III Administrasi Umum Abu Hassan, Perwakilan HIPMI, Ketua Gapensi, Perwakilan APINDO, Perwakilan PHRI, Ketum Gresik Heritage dan Kepala Sekolah se Kabupaten Gresik.

            Empat kurikulum baru yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Gresik merupakan gagasan dan inovasi untuk membuat generasi muda mampu menjaga kearifan lokal dan budaya Islami di Kabupaten Gresik. Selain itu, juga dalam rangka menyiapkan generasi muda khususnya di wilayah Kabupaten Gresik yang kini hidup di era digitalisasi. Bupati Gresik, yakni H. Fandi Akhmad Yani, SE. mengatakan bahwa dari belajar sejarah lokal maka generasi muda bisa belajar tentang kejayaan masa lampau dan dari peristiwa sejarah pula generasi muda bisa melihat kehancuran di masa lampau.

            Seperti diketahui, bahwa Kabupaten Gresik merupakan Kota Tua dengan budaya dan toleransi beragama yang sudah ditunjukkan beberapa abad lalu. Adanya kurikulum sejarah lokal Gresik jelas sangat penting untuk menjaga budaya dan melestarikan kearifan lokal sejarah yang ada di Gresik yang belum tentu dimiliki daerah lain yang ada di Indonesia. Dengan adanya kurikulum baru maka diharapkan anak didik lebih progresif dan siap menghadapi tantangan di masa kini dengan melihat situasi di masa datang serta mampu mengikuti perkembangan zaman dimana kini telah terjadi suatu transformasi digital akselerasinya yang luar biasa.

            Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik, yakni Bapak S. Hariyanto saat itu mengatakan bahwa setelah melakukan pemetaan maka Dinas pendidikan juga telah menindaklanjuti problem sarana prasarana pendidikan yang terjadi di sekolah dimana salah satunya dengan meluncurkan program kurikulum baru. Pengembangan kurikulum merupakan hal urgen mengingat bahwa meskipun`merupakan hal yang sederhana namun turut menentukan masa depan generasi muda Gresik. Untuk itulah maka Dinas Pendidikan bertanggung jawab dan bisa menjadi motor untuk menggerakkan ini karena ini amanat Undang-Undang.

            Sejarah lokal sendiri dalam perspektif dunia pendidikan memang perlu diajarkan kepada siswa. Gagasan tentang pengajaran sejarah lokal sangat penting untuk dikemukakan saat ini. Sejarawan Taufik Abdullah sendiri mendefinisikan sejarah lokal sebagai sejarah dari suatu tempat, suatu lokalitas yang batasnya ditentukan oleh perjanjian penulis sejarah. Sejarah lokal bersifat elastis. Bisa bicara tentang suatu desa, kecamatan, kabupaten, tempat tinggal suatu etnis dan suku bangsa yang ada dalam suatu daerah atau kawasan. Lewat pengajaran sejarah lokal maka peserta didik diajak untuk mengenal peristiwa sejarah yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Materi sejarah lokal juga sangat luas. Eksplorasi materi sejarah lokal dapat bersumber dari peninggalan-peninggalan sejarah di daerah tersebut. Penulisannya berdasarkan tema-tema tertentu. Selain itu, materi sejarah lokal yang ditampilkan dapat dilihat dari dinamika lokal yang terjadi dalam konteks sejarah nasional dan dunia atau dinamika sejarah nasional dan dunia yang berdampak pada sejarah lokal. Salah satu sumber belajar yang kaya adalah peristiwa-peristiwa lokal yang terjadi di suatu daerah.

            Gresik sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan sejarah menjadi ladang sumber belajar bagi generasi muda. Banyak tinggalan-tingalan sejarah yang ada di Gresik dan hingga kini dapat disaksikan. Beberapa diantaranya adalah makam Fatimah binti Maimun di Leran Manyar, Benteng Lodewijk di Mengare Bungah, Kompleks makam Sunan Giri, kompleks makam Poesponegoro Gresik, Kawasan Kota Tua Gresik, Kompleks bekas Kadipaten Sidayu, ragam jejak peradaban Sungai Bengawan Solo (Nadhitira Pradesa), Jejak Pelabuhan Gresik, dan beberapa situs sejarah lainnya. Semuanya itu tentu sangat berpotensi sebagai bagian dari pembelajaran sejarah lokal siswa Gresik.

            Pentingnya pembelajaran sejarah lokal juga seiring dengan konsep tujuan pembelajaran sejarah itu sendiri. Tujuan penerapan sejarah lokal dalam pembelajaran sejarah di sekolah adalah (1) bahan belajar akan lebih mudah diserap siswa, (2) sumber belajar di daerah dapat lebih mudah dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, (3) siswa lebih mengenal kondisi lingkungan, (4) siswa dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya, (5) siswa dapat menolong diri dan orang tuanya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, (6) siswa dapat menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya, dan (7) siswa menjadi akrab dengan lingkungannya.

            Ada beberapa aspek positif dalam pembelajaran sejarah lokal, baik yang bersifat edukatif psikologis maupun yang bersifat kesejarahan sendiri. Pertama, mampu membawa peserta didik pada situasi ril di lingkungannya dan mampu menerobos batas antara dunia sekolah dan dunia nyata di sekitar sekolah. Dilihat secara sosio-psikologis bisa membawa peserta didik secara langsung mengenal dan menghayati lingkungan masyarakatnya, dimana mereka merupakan bagian di dalamnya. Kedua, pembelajaran sejarah lokal, akan lebih mudah membawa siswa pada usaha untuk mengenang pengalaman masa lampau masyarakatnya dengan melihat situasi masa kini, bahkan dapat memproyeksikan  peluang dan tantangan pada masa yang akan datang. Dalam pembelajaran sejarah lokal peserta didik akan mendapatkan banyak contoh dan pengalaman dari berbagai tingkat perkembangan lingkungan masyarakatnya, termasuk situasi masa kini. Dengan demikian, mereka akan lebih mudah menangkap konsep perubahan yang menjadi kunci penghubung antara masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

            Jika dihubungkan dengan teori J. Bruner maupun dalam hubungan dengan konsep-konsep pendekatan proses, maka pembelajaran sejarah lokal sangat mendukung prinsip pengembangan kemampuan peserta didik untuk berpikir aktif, kreatif dan struktural konseptual. Hampir semua prinsip dalam rangka pembelajaran siswa aktif  sangat relevan dengan kegiatan pembelajaran yang bermuatan sejarah lokal. Sesuai dengan sifat materi serta sumber sejarah lokal, maka peserta didik akan terdorong untuk menjadi lebih peka lingkungan, begitu juga mereka akan lebih terdorong mengembangkan keterampilan-keterampilan khusus seperti: mengobservasi, teknik bertanya atau melakukan wawancara, mengumpulkan dan menyeleksi sumber, mengadakan klasifikasi serta mengidentifikasi konsep, bahkan membuat generalisasi, kesemuanya itu mendorong bagi perkembangan proses belajar bersifat discovery inquiry.

            Pengembangan pembelajaran sejarah yang bermuatan lokal perlu pula mencermati arah materi sejarah yang bersifat Indonesia sentris, arah gerak sejarah Bangsa Indonesia yang semula ditentukan oleh kaum elit/penguasa, Menuju ke gerak sejarah yang tidak hanya ditentukan oleh kaum penguasa, tetapi oleh rakyat Indonesia. Dalam menghadapi tantangan pembelajaran sejarah yang demikian itu, peran guru sejarah benar-benar menentukan selain sebagai pelaksana kurikulum dan pengembang kurikulum sejarah, juga harus mampu melakukan pengkajian sejarah lokal di sekitar tempat tugasnya. Akhirnya, pembelajaran sejarah benar-benar bisa memberikan kearifan hidup bagi peserta didik.

            Pembelajaran bermuatan sejarah lokal mengharapkan peserta didik maupun guru harus mampu berhubungan dengan sumber-sumber sejarah, baik yang tertulis maupun informasi lisan, baik berupa dokumen maupun benda-benda seperti: bangunan, alat-alat, peta dan sebagainya yang mula-mula harus dikumpulkan, kemudian dikritik serta diinterpretasikan sebelum bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal. Untuk itu, guru sejarah perlu suatu persiapan khusus sebelum pembelajaran bermuatan sejarah lokal bisa dilaksanakan secara efektif. Kesulitan lain adalah memadukan tuntutan pembelajaran sejarah lokal dengan tuntutan penyelesaian target materi yang telah tertulis dalam kurikulum. Pada umumnya dalam kurikulum sudah ditentukan sejumlah materi dan pokok-pokok bahasan yang harus diselesaikan sesuai dengan alokasi waktu yang sudah ditentukan dengan ketat. Dengan demikian guru akan mengalami dilema antara memenuhi tuntutan kurikulum dengan usaha pengembangan pembelajaran bermuatan sejarah lokal yang memerlukan waktu yang relatif banyak, baik untuk persiapan maupun untuk pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di luar kelas.

            Terkait dengan permasalahan tersebut, peneliti Douch mengemukakan tiga saran model dalam pembelajaran sejarah lokal.

  1. Pertama, guru sejarah hanya mengambil contoh-contoh dari kejadian lokal untuk memberi ilustrasi yang lebih hidup dari uraian sejarah nasional maupun sejarah dunia yang sedang diajarkan. Di sini jelas tidak akan ada masalah bagi usaha yang mengaitkan sejarah lokal dengan kurikulum pembelajaran sejarah yang berlaku, karena tidak ada pengambilan alokasi waktu yang sudah disediakan dan tidak ada kegiatan khusus di luar kelas yang harus dilakukan guru dan peserta didik.
  2. Kedua, dilakukan dalam bentuk kegiatan penjelajahan lingkungan. Dalam bentuk ini peserta didik selain belajar sejarah di kelas, juga diajak ke lingkungan sekitar sekolah untuk mengamati langsung sumber-sumber sejarah dan mengumpulkan data sejarah. Aspek-aspek yang diamati tidak semata-mata berupa sejarah dalam urutan-urutan peristiwa, tetapi juga berbagai aspek kehidupan yang terkait seperti geografi, sosial ekonomi dan sosial budaya.
  3. Ketiga, studi khusus tentang berbagai aspek kesejarahan di lingkungan peserta didik. Peserta didik diorganisir untuk mengikuti prosedur seperti yang dilakukan peneliti profesional, mulai dari pemilihan topik, membuat perencanaan, cara membuat analisis data sampai penyusunan laporan hasil studi.

            Pembelajaran sejarah lokal di daerah, seperti di wilayah Gresik jelas pada gilirannya akan mampu mengantarkan siswa untuk mencintai daerahnya. Kecintaan siswa pada daerahnya akan mewujudkan ketahanan daerah. Ketahanan daerah adalah kemampuan suatu daerah yang ditunjukkan oleh kemampuan warganya untuk menata diri sesuai dengan konsep yang diyakini kebenarannya dengan jiwa yang tangguh, semangat yang tinggi, serta dengan cara memanfaatkan alam secara bijaksana. Pentingnya sejarah lokal diajarkan pada anak-anak karena sejarah adalah media untuk pembentukan karakter. Siswa sebagai manusia yang multi perspektif harus berangkat dari kelokalan untuk menguatkan identitas lalu tumbuh menjadi manusia yang berjiwa nasional. Lalu tahapan berikutnya menjadi manusia gobal.

SMA Assaadah Bungah Canangkan Program Sekolah Anti Perundungan Melalui Agen Perubahan

Oleh: Eko Jarwanto

SMA Assaadah Bungah Gresik pada tahun ajaran 2021/2022 dipercaya sebagai salah satu lembaga perintis yang melaksanakan program Roots Indonesia. Tujuan umum program Roots adalah membangun interaksi positif di sekolah dengan memusatkan peran para pelajar di sekolah sebagai agen perubahan untuk menyebarkan pesan dan perilaku baik di lingkungan sekolah, khususnya kepada teman sebaya. Program Roots ini diluncurkan seiring dengan pelaksanaan program yang lebih luas, yakni pelaksanaan program Sekolah Penggerak. Program Roots dikenal pula dengan nama lain, yakni program anti perundungan (bullying). Istilah perundungan sendiri memiliki banyak jenis. Jenis-jenis perundungan di dunia nyata misalnya perundungan verbal, seperti membentak, berteriak, memaki, bergosip, menghina, meledek, mencela, mempermalukan, dan sebagainya. Di sisi lain jenis perundungan fisik, seperti menampar, mendorong, mencubit, menjambak, menendang, meninju, dan lain sebagainya yang dapat melukai fisik.

Program Roots ini sebelumnya telah diimplementasikan di berbagai negara, salah satu di Amerika Serikat (di beberapa negara bagian). Setelah diimplementasikan selama satu tahun maka ditemukan perbedaan secara statistik antara lembaga sekolah yang berpartisipasi dalam program tersebut dan dengan lembaga yang tidak ikut berpartisipasi. Di sekolah yang berpartisipasi dalam Program Roots, rata-rata ditemukan pengurangan kasus konflik antarsiswa sebanyak 30%. Penanganan satu konflik dapat menghabiskan waktu setidaknya satu jam, sehingga pengurangan angka ini dapat disetarakan dengan menyimpan ratusan jam untuk penanganan konflik. Program ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu menggunakan sanksi untuk mengurangi perundungan (bullying). Kita dapat menargetkan siswa tertentu untuk menyebarkan pesan anti perundungan. Potensi mereka yang dapat menyebarkan perilaku positif dapat menunjukkan kepada siswa lain apa yang sesuai dengan nila-nilai masyarakat dan seharusnya terjadi di sekolah. Selain itu, akan ada banyak cara yang datang dari diri mereka sendiri untuk memberikan inspirasi dan membuat perubahan positif. Selain dapat dilakukan secara sederhana, program Roots Indonesia ini juga dipandang murah secara pendanaan dan dapat diadaptasi pada beragam konteks.

Program pencegahan dari tindakan perundungan berbasis sekolah telah dikembangkan oleh UNICEF Indonesia sejak tahun 2017 bersama dengan Pemerintah Indonesia, akademisi, serta praktisi pendidikan dan perlindungan anak. Program Roots merupakan model intervensi berdasarkan bukti ilmiah yang telah dikembangkan untuk mencegah perundungan di lingkungan sekolah dengan melibatkan siswa sebagai agen perubahan untuk membantu menciptakan iklim yang positif di sekolah. Roots juga mengadopsi dan mengkombinasikan komponen pengetahuan dan keterampilan  guru untuk mampu menerapkan praktik disiplin positif yang telah dikembangkan oleh UNICEF di beberapa wilayah di Indonesia.

Sebagaimana telah diketahui bahwa pemerintah Indonesia sendiri juga telah menetapkan berbagai upaya “Perlindungan Anak” sebagai skala prioritas kebijakan tingkat nasional. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Pencegahan kekerasan (termasuk perundungan/bullying) di dalamnya merupakan bagian dari upaya perlindungan anak yang dicanangkan sebagai salah satu program prioritas nasional, sebagaimana tercantum pada RPJMN 2020-2024 serta Permendikbud 82/2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan di Satuan Pendidikan. Pencegahan perundungan melalui program Roots juga menjadi salah satu nilai yang didorong dalam upaya penguatan karakter siswa didik dan menciptakan iklim yang aman dan nyaman untuk anak belajar.

Perundungan atau bullying saat ini memang merupakan isu global yang menjadi masalah penting di Indonesia dan dunia. Menurut Global School Health Survey (2015), sekitar 21% anak usia 13-15 tahun atau setara dengan 18 juta anak di Indonesia pernah mengalami tindakan perundungan dalam 1 bulan terakhir. Sebagian besar siswa berusia 15 tahun (41%) menyebutkan telah mengalami perundungan lebih dari beberapa kali dalam sebulan terakhir. Jumlah ini lebih tinggi dari jumlah rata-rata pada negara tergabung dalam Organisasi Kerjasama dan Perkembangan Ekonomi (The Organisation for Economic Co-operation and Development), yaitu 22.7%. Sebanyak 25% anak berusia 13-15 tahun menyatakan terlibat dalam kontak fisik, dimana secara signifikan lebih tinggi pada laki-laki, yaitu 36% dan anak perempuan sebanyak 13%. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima setidaknya 37.381 laporan perundungan dalam kurun waktu 2011 hingga 2019. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.473 kasus disinyalir terjadi di dunia pendidikan.

Maraknya tindakan perilaku perundungan tersebut jelas menjadi persoalan sendiri di dalam masyarakat untuk segera dapat dipecahkan secara bersama-sama. Berbagai data dan bukti menunjukkan bahwa pencegahan perundungan dapat bekerja secara efektif jika dilakukan di tingkat sekolah (lembaga pendidikan). Pedoman WHO tahun 2020 terkait pencegahan kekerasan di sekolah menekankan pentingnya pendekatan seluruh komponen sekolah (whole school approach) dalam pencegahan perundungan, dengan melibatkan siswa, guru dan tenaga kependidikan, orang tua, serta masyarakat. Mereka semua adalah sistem pendukung untuk mencegah perundungan di sekolah. Adanya program Roots Indonesia ini sengaja dimasukkan ke dalam kegiatan sekolah, di mana siswa, guru, dan pegawai sekolah akan mendesain rangkaian kegiatan Roots di sekolah sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal yang diikuti dengan internalisasi desain kegiatan tersebut di sekolah. Untuk wilayah Jawa, program Roots dilakukan di enam provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

SMA Assaadah Bungah sebagai salah satu lembaga yang dipercaya dalam pelaksanaan program Roots jelas menyambut dengan antusias dan melaksanakan program tersebut dengan penuh tanggung jawab. Dalam praktiknya, sekolah menetapkan sebanyak 40 siswa sebagai agen perubahan berdasarkan hasil polling pilihan siswa sendiri. Pada tahap awal dari program Roots adalah melakukan survei terhadap para peserta didik dan juga guru seputar perundungan di lingkungan sekolahnya. Mereka diberikan pertanyaan-pertanyaan simpel mengenai perundungan seperti pernahkan melakukan perundungan, pernahkah menjadi korban perundungan, apa yang dilakukan ketika melihat perundungan, dan sebagainya. Adapun survei dilakukan secara anonim agar identitas responden tetap terjaga rahasianya. Dengan dilakukan survei, nantinya bisa diketahui data terkait perundungan yang dapat dijadikan landasan pemetaan tindakan selanjutnya. Untuk pemilihan agen perubahan menggunakan teori jejaring sosial.

Metode yang dilakukan adalah setiap peserta didik setiap angkatan diminta menuliskan 10 nama teman terdekatnya. Nantinya akan ada sekitar 40 agen perubahan di sekolah yang ditetapkan. Hal ini sangat penting karena dalam jejaring sosial ingin didapat data mengenai peserta didik mana saja yang paling berpengaruh dan paling didengar oleh peserta didik lainnya. Pemilihan agen perubahan ini bertujuan untuk bisa memengaruhi peserta didik lain agar peduli terhadap kasus perundungan yang terjadi di sekolahnya.

Para agen perubahan yang sudah terpilih tadi selanjutnya akan menjalani sesi pelatihan selama 15 pertemuan. Pelatihan ini memberikan materi seputar perundungan kepada agen perubahan. Agar efektif, pelatihan dilakukan satu kali dalam seminggu sehingga program ini diestimasikan berjalan selama satu semester. Di sini, peran fasilitator menjadi kunci dalam sesi pelatihan. Fasilitator bisa berasal dari guru di sekolah ataupun pembina ekstrakurikuler. Namun, fasilitator haruslah sosok yang dekat dan dapat dipercaya oleh para agen perubahan. Selama proses pemberian materi ini, para agen perubahan didampingi oleh dua fasilitator program Roots dari sekolah, yakni Bpk. Eko Jarwanto, M.Pd. dan Ibu Nanda Dwi Y, S.Pd.

Secara rinci, beberapa materi pokok yang disampaikan kepada agen perubahan, yakni terkait; 1). Pengenalan Program, 2). Mengenal Identitas, Kepercayaan, dan Kesadaran Kelompok, 3). Mengenal Perundungan (Bullying), 4). Kepemimpinan dan Komunikasi Efektif, 5). Melihat dari Perspektif yang Berbeda dan Membangun Hubungan yang Sehat, 6). Pengaruh Siswa dan Tanggapan Mereka Terhadap Konflik, 7). Menghubungkan Perubahan yang Didorong oleh Siswa dengan Perilaku Positif, 8). Mengembangkan Kesepakatan “Siswa Anti Perundungan”, 9). Mengembangkan dan Mempraktikkan Pembagian Peran (Role Play) Berdasarkan Observasi Siswa Terhadap Perundungan, 10. Menuju Aksi yang Lebih Besar di Sekolah, 11). Visi untuk Roots Day, 12. Publikasikan dan Perkuat Pesan, 13). Bersiap untuk Roots Day, 14). Roots Day, dan 15). Evaluasi Roots Day.

Output dari pelaksanaan program Roots di SMA Assaadah Bungah ini tentunya jelas, yakni agar lingkungan sekolah terbebas dari adanya tindakan dan perilaku perundungan dan kekerasan. Mereka para agen perubahan yang sudah dilatih berkewajiban mengimbaskan ilmu yang mereka peroleh kepada teman-teman mereka. Di sisi lain, program Roots ini juga disebarkan kepada segenap warga sekolah demi terwujudnya iklim pendidikan yang baik. Langkah selanjutnya ialah setelah para agen perubahan diberi pelatihan mengenai perundungan, satuan pendidikan bisa merayakan acara puncak dengan mengadakan kampanye antiperundungan. Acara ini wajib diikuti oleh seluruh warga sekolah mulai dari peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan. Puncak acara dari kampanye ini dapat diselenggarakan dengan berbagai ide kreatif dari para agen perubahan. Bisa berbentuk penandatanganan deklarasi anti perundungan, pertunjukan seni, ataupun ide-ide kreatif lainnya.

Kegiatan akhir dari program Roots yakni dilakukan survei ulang dan evaluasi usai program Roots dijalankan. Apakah ada perubahan pada tingkat kasus perundungan atau tidak. Jika program berhasil, maka kasus perundungan akan turun. Namun, jika ternyata semakin banyak yang melaporkan kasus perundungan bisa juga berarti telah banyak warga sekolah yang semakin peduli dengan masalah perundungan di lingkungannya. Perundungan memang bukanlah masalah yang dapat disepelekan. Oleh karena itu, satuan pendidikan bisa mencoba mengaplikasikan program Roots untuk menekan kasus perundungan di sekolahnya.

Kunjungan SMA Assaadah ke UNESA

SURABAYA-Sebanyak 208 siswa dari kelas XI, jurusan IPA dan IPS serta para guru SMA Assaadah Gresik ‘geruduk’ Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada Jumat, 16 Desember 2022. Rombongan sekolah tersebut disambut hangat oleh jajaran Satuan Admisi, Koordinator Akademik BAKPK dan UPT Humas UNESA di Gedung D1, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Kampus Ketintang, Surabaya.

Kepala sekolah SMA Assaadah, Muslihah M.SI., menyampaikan bahwa kunjungan dimaksudkan agar hubungan silaturahmi antara SMA Assaadah dengan kampus UNESA tetap terjalin. Alumni SMA tersebut tahun lalu banyak yang diterima di UNESA bahkan para guru-guru di sana pun merupakan alumni UNESA. “Semoga dengan kunjungan ini, siswa kami termotivasi dan dapat mempersiapkan diri agar bisa mengikuti jejak seniornya yang berhasil masuk kuliah di sini (UNESA, red),” harapnya.


www.unesa.ac.id

Foto : Awang Dharmawan, S.Ikom., MA., selaku Ketua Divisi Penerimaan Mahasiswa Baru, Satuan Admisi UNESA tengah memberikan materi terkait penerimaan mahasiswa baru di Unesa

Ketua Divisi Penerimaan Mahasiswa Baru, Satuan Admisi UNESA, Awang Dharmawan, S.Ikom., MA., menyampaikan informasi seputar prodi, keunggulan dan fasilitas yang ada di UNESA. “UNESA punya sekitar 7 fakultas dan ini mau tambah fakultas kesehatan yang fokus ke olahraga. Unggulan kami olahraga, seni, pendidikan dan disabilitas,” bebernya.


www.unesa.ac.id

Foto : Suasana tanya jawab siswa SMA Assaadah kepada tim Admisi Unesa dan Humas Unesa

Dr. Sukarmin, M.Pd., Satuan Admis UNESA menyampaikan tentang jalur-jalur yang ada di UNESA, termasuk jalur prestasi yang bisa dimanfaatkan peserta. “Di jalur Mandiri kami ada jalur prestasi keagamaan hingga kepemimpinan. Nah, yang ketua OSIS bisa memanfaatkan peluang ini. Termasuk yang prestasi di bidang seni dan olahraga,ucapnya. [HUMAS UNESA]

Buka Smadah Festival Competition, Bu Min Apresiasi Ratusan Peserta Yang Hadir

PreviousNext

19 Mar 2023

Gresik, 19 Maret 2023 – Wakil Bupati Gresik Hj. Aminatun Habibah, membuka acara SMA Assa’adah Festival Competition 2023, Minggu (19/3). Festival tersebut merupakan yang pertama kali digelar oleh SMA Assa’adah. Dalam pembukaannya, wabup mengapresiasi ratusan peserta yang ikut serta dalam festival.

“Saya mengucapkan selamat kepada anak-anak yang sudah dikirim di sini. Saya yakin kalian semua adalah anak-anak yang hebat, dan telah menjadi juara dari sekolahnya masing-masing.” ujar wabup.

Dalam pelaksanaannya, SMADAH FEST #1 terbagi menjadi sembilan lomba. Masing-masing adalah Speech Contest, Baca Puisi, Animasi Scratch, Fashion Show Daur Ulang, Pidato Bahasa Arab, Catur, Kaligrafi, Mini Vlog, dan Rangking-1.

Total peserta sebanyak 180 siswa-siswi dadi 35 SLTP sederajat se Gerbangkertosusila (Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan).

Wabup yang akrab disapa Bu Min itu juga mengatakan, ajang lomba merupakan wadah dalam mencari pengalaman yang baru. menurutnya, juara adalah hadiah tambahan dari proses mencari ilmu.

“Oleh karena itu, anak-anak disini bukan untuk memperebutkan juara, tetapi anak-anak disini untuk sharing ilmu dan pengalaman antar sesama siswa dari sekolah yang lain.” ucapnya.

Bu Min yakin, dengan adanya festival ini dapat melahirkan talenta yang hebat dan berprestasi.

Setelah membuka SMADAH FEST, Bu Min bergegas menuju MTS Assa’adah 1 yang saat itu tengah memperingati HUT ke 61. Seperti yang diketahui, selain menjadi alumnus SMA Assa’adah, Bu Min juga merupakan alumnus dari Mts Assa’adah yang dulu belum dipisah.

Saat menghadiri HUT Mts Assa’adah, Bu Min bercerita tentang perbedaan pendidikan jaman dulu. Yang mana dari segi infrastruktur yang terbatas hingga suasana belajar yang masih tradisional.

Hadir pula Kepala Desa Bungah, Subakir, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin, KH. Nawawi Sholeh, Pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin, KH. Ala’udin, dan para guru dari Mts dan SMA Assa’adah.

(Re-post dari tlh/edited by Diskominfo Kab. Gresik)

DIIKUTI 35 LEMBAGA SEKOLAH JENJANG SMP/MTS, SMA ASSA’ADAH BUNGAH SUKSES GELAR SMADAH FEST #1 2023

Sebagai satu langkah inovasi dalam menggali bakat dan minat siswa-siswi pada jenjang SMP/MTs, SMA Assa’adah sukses menggelar sebuah event skala besar yang diberi nama SMADAH FEST #1 Tahun 2023 pada Minggu (19/3/2023).

Event SMADAH FEST ini merupakan sebuah ajang kompetisi yang terdiri dari berbagai cabang lomba. Setidaknya terdapat 9 bidang cabang lomba yang digelar, yakni lomba Speech Contest, Pidato Bahasa Arab, Baca Puisi, Animasi Scretch, Kaligrafi, Fashion Show Daur Ulang, Catur, Mini Vlog, dan Olimpiade Rangking-1.

Pada tahun 2023 ini sendiri merupakan tahun pertama dari digerlarnya ajang ini dengan mengusung bidang lomba olahraga, sains, bahasa, agama, dan seni

Kepala Sekolah, Ibu Hj. Mushlihah, M.Si menuturkan bahwa tujuan awal diselenggarakannya SMADAH FEST #1 ini sebagai sarana silaturahmi antarlembaga sekolah dan juga meningkatkan kompetensi para siswa.

Dalam acara pembukaan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Kabupaten Gresik, Dra. Hj. Aminatun Habibah, M.Pd. (Bu Min), yang juga turut memberikan sambutan awal dan membuka acara gelar festival ini.

Dalam sambutannya, Bu Min menuturkan bahwa meskipun banyak sekolah berada di desa namun jangan mau kalah dan teruslah bersaing untuk hal-hal positif, terutama untuk prestasi belajar, ujarnya.

Pembukaan SMADAH FEST #1 juga diisi dengan pertunjukkan kreasi siswa-siswi SMA Assa’adah. Mulai dari hadrah, Tari Wonderland, Traian kreasi Profil Pelajar Pancasila. Bahkan di siang hari juga ditampilkan berbagai sajian menarik, seperti kreasi Paskibraka, Pramuka, atraksi Pencak Silat Pagar Nusa, drama komedi berjudul Malinkundang, serta sajian Tarian Kipas dari anak-anak, dll.

Acara SMADAH FEST #1 tahun 2023 ini sendiri menurut data dari panitia diikuti oleh 35 lembaga sekolah jenjang SMP/MTs yang berasal dari wilayah Gerbang Kertosusilo. Masing-masing sekolah hanya diperbolehkan mengirimkan sebanyak 2 siswa atau 2 tim (jika lomba beregu/tim) saja. Dengan kebijakan demikian maka diharapkan akan terwujud sebuah kompetisi yang berlangsung secara seimbang dan sportif.

Eko Jarwanto selaku ketua panitia penyelenggara mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung suksesnya acara tersebut. Ia menyampaikan bahwa setidaknya terdapat belasan sponsor yang mendukung acara SMADAH FEST #1 tahun 2023.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada segenap peserta lomba dari perwakilan SMP/MTs se-Gerbang Kertosusilo yang telah ikut berpartisipasi dalam ajang tersebut. Baginya, semua peserta adalah pemenang karena mereka adalah siswa-siswi pilihan dari sekolahnya masing-masing, ujarnya.

Melalui Pondok Aswaja, Ratusan Siswa SMA Assa’adah Bungah Diajak Semakin Cinta NU dan Berakhlak Santri

Kyai Alauddin, Lc., MEI. selaku pemangku Ponpes Qomaruddin sedang memberikan sambutand alam acara Pondok Aswaja

SMA Assa’adah Sampurnan Bungah Gresik bekali para siswa dari faham radikalisme dan sekulerisme dengan materi penguatan karakter Ahlusunnah wal Jamaah An Nahdliyah (Aswaja NU). Kegiatan berjuluk Pondok Aswaja ini berlangsung pada 6 – 7 April 2023 bertempat di Aula Lantai IV Gedung SMA Assa’adah Sampurnan Bungah, Gresik.

Melalui Pondok Aswaja ini, siswa mendapatkan tambahan wawasan mengenai Aswaja NU dengan segala kontekstualisasinya. Hal ini lantaran Pondok Aswaja SMA Assa’adah Bungah menghadirkan narasumber yang berkompeten yakni dari Pengurus Cabang Nadhdlatul Ulama (PCNU Gresik) serta dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU Bungah).

Koordinator Pondok Aswaja SMA Assa’adah Bungah, Tri Wahyuni menjelaskan kegiatan Pondok Aswaja pada lembaganya ini sedianya menjadi gelaran rutin. Hanya saja sempat terhenti saat pandemi.

“Jadi sebelum anak-anak melanjutkan ke jenjang pendidikan Perguruan Tinggi, anak-anak sudah mengenal betul bagaimana Aswaja NU. Pembiasaan ini juga kami harapkan menjadikan anak-anak tambah wawasan hingga rasa bangga serta kecintaan kepada Nahdlatul Ulama,” terang Tri Wahyuni

Siswa mendengarkan dengan antuas para pemateri kegiatan Pondok Aswaja di Aula YPPQ

Ditambahkan Tri, kegiatan Pondok Aswaja yang kebetulan digelar di tengah Bulan Suci Ramadhan 1444 Hijriah ini, diikuti oleh seluruh siswa SMA Assa’adah Bungah berjumlah 247 siswa dari Kelas XII. Para siswa didampingi dengan jajaran guru terdiri dari Wali Kelas, Staf hingga Karyawan SMA Assa’adah Bungah.

“Selama Pondok Aswaja ini para siswa mendapatkan berbagai materi tentang tata cara ibadah atau ubudiyah NU. Seperti mengajak mereka Salat Tarawih berjamaah 20 rakaat, membaca wirid tarawih, hingga kita ajak mengimplementasikan muamalah warga NU yakni ziarah Masyayikh Qomaruddin di akhir kegiatan Pondok Aswaja nanti,” tandas Tri Wahyuni yang juga Wakil Kepala Sekolah SMA Assa’adah Bungah ini.

Sementara itu di hadapan ratusan Siswa SMA Assa’adah Bungah, yang sebagian Santri tidak bermukim di Pesantren (mbajak), KH Alauddin menjelaskan potret diri Pelajar SMA Assa’adah yang juga sebagai Santri Qomaruddin.

Siswa dalam acara buka puasa bersama

Sampean semua adalah Santri Qomaruddin, statusnya sama (yang mbajak dan mondok). Sebab siapapun yang belajar di lembaga pendidikan Qomaruddin adalah Santri Qomaruddin. Maka harus dijaga kesantriannya. Jangan sampai luntur. Jangan kecil hati, santri iku sopo? Santri itu hebat,” tandas Kiai Alauddin dalam sajian materinya.

Untuk diketahui, tema Pondok Aswaja SMA Assa’adah Bungah 2023 kali ini yakni; Implementasi Materi Pendidikan Agama Islam Perspektif Aswaja An Nahdliyah. Narasumber pertama disampaikan Wakil Sekretaris PCNU Gresik Ali Mujib, menyampaikan materi seputar Amalan sehari-hari bagi Warga NU.

Sedangkan Narasumber kedua yakni, KH Alauddin, merupakan Pemangku ke-10 Pondok Pesantren Qomaruddin, sekaligus Ketua MWCNU Bungah. Ia menyampaikan materi seputar Konsep Praktik Aswaja NU mulai seperti Manhaj NU, Fikrah NU, dan materi lainnya secara ringan dan sistematis disertai contoh konteks kekinian.

Repost (NuGres)