
Gresik — Sebanyak 24 siswa Ekstrakurikuler Teater SMA Assaadah Bungah mengikuti kegiatan Study Pentas Teater pada pekan ini di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Pendopo Cak Durasim, Surabaya. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Genteng Kali No. 85, Genteng, Surabaya, tersebut menjadi kesempatan berharga bagi para siswa untuk memperluas wawasan sekaligus merasakan atmosfer seni pertunjukan secara langsung.
Para peserta tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk bereksplorasi di lingkungan Taman Budaya. Mereka mengamati berbagai aspek pertunjukan, mulai dari suasana panggung, ekspresi pemain, penghayatan karakter, tata artistik, hingga interaksi antara pemain dan penonton.
Kegiatan semakin menarik karena para siswa berkesempatan menyaksikan penampilan Komunitas Tombo Ati dari Jombang dengan judul pertunjukan “HAJATAN”. Pementasan tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi peserta untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah gagasan dikembangkan menjadi pertunjukan teater yang memiliki kekuatan cerita, karakter, dialog, gerak, dan unsur artistik.
Didampingi Pembina Ekstrakurikuler Teater Muhammad Dzunnurain (Cak Roin), ke-24 siswa tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Bagi mereka, Study Pentas menjadi pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran teater yang selama ini dilakukan di lingkungan sekolah.
Pembina Ekstrakurikuler Teater SMA Assaadah Bungah, Muhammad Dzunnurain (Cak Roin), mengatakan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata kepada para peserta ekstrakurikuler.
“Anak-anak perlu melihat dan merasakan langsung bagaimana dunia pertunjukan teater berlangsung. Dengan datang ke ruang seni dan menyaksikan pementasan secara langsung, mereka bisa belajar banyak hal yang tidak selalu bisa didapatkan hanya melalui latihan di sekolah,” ujarnya.
Menurut Cak Roin, kesempatan bereksplorasi di Taman Budaya juga penting untuk menumbuhkan keberanian dan kepekaan artistik siswa. Mereka dapat mengamati lingkungan seni, berdiskusi, sekaligus menemukan inspirasi yang nantinya dapat dikembangkan dalam proses latihan dan pementasan di sekolah.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu menjadi pembelajar. Mereka bisa mengamati, menganalisis, kemudian mencoba mengembangkan apa yang mereka lihat sesuai dengan karakter dan kreativitas mereka sendiri,” tambahnya.
Sementara itu, Waka Kesiswaan SMA Assaadah Bungah, Muhammad Sholeh Al Qoyyim Hidayatullah, memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang dilakukan Ekstrakurikuler Teater. Menurutnya, kegiatan di luar lingkungan sekolah seperti Study Pentas memiliki peran penting dalam memperkaya pengalaman dan mengembangkan potensi siswa.
“Ekstrakurikuler bukan hanya tentang kegiatan rutin di sekolah, tetapi juga bagaimana siswa mendapatkan pengalaman nyata di luar sekolah. Kegiatan seperti ini sangat positif karena anak-anak dapat mengenal lebih dekat dunia seni dan budaya sekaligus mengembangkan kreativitas, keberanian, komunikasi, dan kerja sama,” tuturnya.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh dari kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi para siswa untuk semakin aktif berkarya dan berprestasi di bidang seni.
Study Pentas di Pendopo Cak Durasim menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang mempertemukan siswa dengan ekosistem seni pertunjukan secara langsung. Melalui kegiatan tersebut, peserta Ekstrakurikuler Teater SMA Assaadah Bungah tidak hanya belajar tentang teater, tetapi juga belajar menghargai proses berkesenian, memahami keberagaman ekspresi budaya, membangun kepercayaan diri, serta mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Pengalaman menyaksikan pertunjukan “HAJATAN” bersama Komunitas Tombo Ati dari Jombang diharapkan menjadi inspirasi baru bagi 24 peserta untuk terus bereksplorasi dan menghasilkan karya-karya teater yang kreatif, komunikatif, serta memiliki nilai edukatif dan budaya.
(Humas/Tim media)
