Belajar Sejarah dari Taman Makam Pahlawan, SMA Assaadah Bungah Hadirkan Pembelajaran Kontekstual

Foto: Siswa belajar sejarah secara langsung dan kontekstual di kompleks lokasi TMP (Taman Makam Pahlawan) Bungah.

Gresik — Pembelajaran sejarah tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Hal tersebut dibuktikan oleh SMA Assaadah Bungah melalui inovasi pembelajaran sejarah yang mengajak siswa belajar langsung di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bungah.

Bersama guru pengajar sejarah, para siswa mengunjungi TMP Bungah untuk melakukan eksplorasi sejarah sekaligus menggali berbagai nilai keteladanan dari para pejuang yang telah berjuang bagi bangsa. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar yang berbeda karena siswa berhadapan langsung dengan situs yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah perjuangan bangsa.

Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan dari guru, tetapi juga diajak mengamati lingkungan makam, mencermati informasi yang tersedia, serta berdiskusi mengenai makna perjuangan dan pengorbanan para pendahulu.

Taman Makam Pahlawan Bungah sendiri diresmikan oleh Dinas Sosial pada tahun 2017. Lokasinya berada di belakang Masjid Kyai Gede Bungah. Keberadaan TMP tersebut menjadi salah satu ruang penting untuk mengenalkan sejarah perjuangan sekaligus menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda.

Salah satu hal menarik yang ditemukan siswa adalah sebagian besar tokoh pejuang yang dimakamkan di TMP Bungah tidak memiliki identitas nama atau bersifat anonim. Kondisi tersebut justru menjadi bahan refleksi bagi siswa bahwa perjuangan dan pengorbanan seseorang untuk bangsa tidak selalu tercatat secara lengkap dalam sejarah.

Namun, terdapat satu makam yang memiliki identitas nama, yakni Chanan, yang tercatat wafat pada 16 Desember 1946. Masa tersebut merupakan periode awal perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan terjadi dalam konteks pergolakan bersenjata yang melibatkan kekuatan Belanda di berbagai wilayah, termasuk kawasan Bungah dan sekitarnya.

Temuan tersebut menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami bahwa sejarah lokal memiliki keterkaitan erat dengan sejarah nasional. Peristiwa besar seperti perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya berlangsung di kota-kota besar, tetapi juga meninggalkan jejak di berbagai daerah, termasuk Kecamatan Bungah.

Dalam proses pembelajaran, siswa diajak untuk melihat sejarah bukan hanya sebagai kumpulan tanggal, nama tokoh, dan peristiwa yang harus dihafalkan. Mereka diarahkan untuk mencari, mengamati, bertanya, menafsirkan, dan menghubungkan sumber sejarah dengan realitas di lingkungan sekitar.

Guru pengajar sejarah SMA Assaadah Bungah, Bapak Eko Jarwanto, M.Pd., menjelaskan bahwa pembelajaran di TMP merupakan bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran sejarah yang lebih kontekstual.

“Sejarah akan lebih bermakna ketika siswa tidak hanya membaca buku, tetapi juga berhadapan langsung dengan jejak sejarah yang ada di sekitar mereka. Di TMP Bungah, anak-anak dapat melihat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga terjadi di daerah mereka sendiri,” jelasnya.

Menurutnya, keberadaan makam-makam tanpa nama juga memberikan pelajaran penting bagi siswa.

“Ada banyak pejuang yang mungkin tidak kita kenal namanya. Justru di situlah nilai keteladanannya. Mereka berjuang bukan karena ingin dikenal atau mendapatkan penghargaan, tetapi karena memiliki kecintaan terhadap tanah air. Nilai seperti inilah yang ingin kami tumbuhkan kepada siswa,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu siswa, Muh. Rahmatullah Ramadhana Al Fadhl, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda selama mengikuti pembelajaran sejarah di TMP Bungah.

“Biasanya kami belajar sejarah dari buku atau penjelasan guru di kelas. Ketika datang langsung ke TMP, rasanya lebih nyata. Kami bisa melihat makam para pejuang dan membayangkan bagaimana perjuangan mereka pada masa lalu,” ungkapnya.

Ia juga merasa tertarik dengan keberadaan makam para pejuang yang tidak diketahui namanya.

“Saya jadi berpikir bahwa ternyata ada orang-orang yang berjuang untuk Indonesia tetapi namanya tidak kita ketahui. Hal itu membuat saya semakin menghargai perjuangan para pahlawan dan merasa memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan dengan belajar dan melakukan hal-hal yang positif,” tuturnya.

Kegiatan pembelajaran sejarah di TMP Bungah menjadi contoh bahwa sumber belajar dapat ditemukan di mana saja, termasuk di lingkungan sekitar sekolah dan tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah. Siswa dapat belajar dari benda, tempat, lingkungan, maupun cerita yang berkembang di masyarakat.

Melalui pembelajaran kontekstual tersebut, SMA Assaadah Bungah berupaya menjadikan sejarah bukan sekadar mata pelajaran, melainkan sarana untuk membangun kesadaran sejarah, karakter, nasionalisme, dan rasa tanggung jawab generasi muda terhadap bangsa.

Dari makam para pejuang, siswa belajar bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah. Ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, dan keberanian para pendahulu.

(Humas/Tim Media)

Ahmad Bagus Haafizhi Sukses Tuntaskan Tugas sebagai Paskibraka Kabupaten Gresik

Foto: Ahmad Bagus Haafizhi bersama kepala SMA Assaadah Bungah (Bapak Muhammad Syaiful Hadi, S.Si., M.Pd) dan juga kedua orangtuanya di pendopo Kabupaten Gresik.

Gresik — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh siswa SMA Assaadah Bungah. Ahmad Bagus Haafizhi, siswa kelas XI-1, sukses menjalankan amanah sebagai anggota Tim Paskibraka Kabupaten Gresik Tahun 2026 dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Ahmad Bagus Haafizhi dipercaya menjadi bagian dari tim inti Paskibraka Kabupaten Gresik setelah melalui proses seleksi yang ketat dan berhasil menyisihkan ribuan pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Gresik. Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ahmad Bagus Haafizhi, keluarga, dan keluarga besar SMA Assaadah Bungah.

Menjelang pelaksanaan upacara, Ahmad Bagus Haafizhi bersama anggota Paskibraka Kabupaten Gresik lainnya menjalani karantina dan pembinaan di tingkat kabupaten. Masa karantina tersebut menjadi bagian penting untuk mematangkan kesiapan fisik, mental, kedisiplinan, kekompakan, serta koordinasi antarpasukan sebelum menjalankan tugas pada momentum bersejarah tersebut.

Puncaknya, Ahmad Bagus Haafizhi berhasil melaksanakan tugas dalam upacara detik-detik Proklamasi dan pengibaran Bendera Merah Putih di Pendopo Kabupaten Gresik pada 17 Agustus 2026. Tidak berhenti pada upacara pagi, Ahmad Bagus Haafizhi juga kembali menjalankan amanah dalam prosesi penurunan Bendera Merah Putih pada sore hari di tempat yang sama.

Dua tugas tersebut dapat dijalankan dengan baik dan lancar. Penampilan Ahmad Bagus Haafizhi bersama tim Paskibraka Kabupaten Gresik menunjukkan kedisiplinan, ketenangan, kekompakan, dan tanggung jawab yang telah dibangun melalui proses seleksi, latihan, pembinaan, hingga karantina.

Momentum tersebut semakin istimewa karena turut disaksikan langsung oleh Kepala SMA Assaadah Bungah, Bapak Muhammad Syaiful Hadi, S.Si., M.Pd., serta kedua orang tua Ahmad Bagus Haafizhi. Kehadiran orang-orang terdekat menjadi dukungan moral yang sangat berarti bagi Ahmad Bagus Haafizhi saat menjalankan tugas membawa nama sekolah dan keluarga.

Bagi SMA Assaadah Bungah, keberhasilan Ahmad Bagus Haafizhi merupakan sebuah prestasi sekaligus bukti konsistensi sekolah dalam memberikan ruang kepada siswa untuk berkembang dan berprestasi di bidang nonakademik.

Terpilihnya Ahmad Bagus Haafizhi juga melanjutkan tradisi positif SMA Assaadah Bungah yang setiap tahun berupaya mengirimkan siswa-siswi terbaiknya untuk mengikuti proses seleksi dan menjadi bagian dari tim inti Paskibraka Kabupaten Gresik.

Kepala SMA Assaadah Bungah, Bapak Muhammad Syaiful Hadi, S.Si., M.Pd., menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan Ahmad Bagus Haafizhi.

“Kami sangat bangga atas capaian Ahmad Bagus Haafizhi. Menjadi bagian dari tim inti Paskibraka Kabupaten Gresik setelah melalui seleksi yang sangat ketat bukanlah sesuatu yang mudah. Ini merupakan hasil dari kerja keras, kedisiplinan, latihan, serta mental yang kuat,” ungkapnya.

Menurutnya, pengalaman Ahmad Bagus Haafizhi sebagai Paskibraka bukan hanya sebuah prestasi yang dapat dibanggakan, tetapi juga merupakan proses pembentukan karakter.

“Tugas Paskibraka mengajarkan banyak hal kepada siswa, mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, hingga nasionalisme. Kami berharap pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi Ahmad untuk terus berkembang dan menjadi pribadi yang tangguh,” tambahnya.

Sementara itu, kedua orang tua Ahmad Bagus Haafizhi mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaan atas kesempatan yang diperoleh putra mereka.

“Kami sangat bersyukur dan bangga melihat Ahmad Bagus Haafizhi dapat menjalankan tugas sebagai Paskibraka Kabupaten Gresik. Perjalanan menuju tahap ini tentu tidak mudah. Ada seleksi, latihan, karantina, dan berbagai proses yang harus dijalani. Kami berharap pengalaman ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Ahmad untuk ke depannya,” ungkap keduanya.

Bagi keluarga, melihat Ahmad Bagus Haafizhi berdiri membawa amanah sebagai bagian dari Paskibraka Kabupaten Gresik menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. Dukungan keluarga diberikan sejak proses seleksi hingga Ahmad Bagus Haafizhi menyelesaikan seluruh rangkaian tugasnya.

Keberhasilan Ahmad Bagus Haafizhi juga menjadi motivasi bagi siswa-siswi SMA Assaadah Bungah lainnya. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa kesempatan untuk mengharumkan nama sekolah dan daerah dapat diraih melalui ketekunan, disiplin, keberanian, dan kemauan untuk berproses.

Setelah sukses menjalankan tugas pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih, Ahmad Bagus Haafizhi kini membawa pulang pengalaman berharga sebagai bagian dari perjalanan pendidikannya. Ia tidak hanya berhasil mengibarkan Sang Merah Putih, tetapi juga telah belajar memaknai arti kehormatan, amanah, pengabdian, dan nasionalisme.

Selamat Ahmad Bagus Haafizhi! Dari SMA Assaadah Bungah, mengukir prestasi untuk Gresik dan mengabdi untuk Indonesia.

(Humas/Tim Media)